Pelita Literasi di Timur Jawa Dwipa

Tidak ada kata istirahat untuk literasi. Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jawa Timur diuji untuk berinovasi pada masa pandemi covid-19. Meski berbagai program unggulan harus dihentikan, serta anggaran terus dipangkas, namun ide-ide inovatif selalu menjadi solusi pada kondisi seperti ini.

Sudah satu tahun lebih tepatnya 14 bulan semenjak pandemi covid-19 melanda Indonesia, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur itu terlihat sunyi, hanya terlihat petugas yang berlalu lalang dan saling bercengkrama. Disperpusip siang itu hanya disinggahi mobil Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur. Meski cuaca cukup terik, namun gedung Disperpusip dengan gaya arsitektur 80-an ini. terasa dingin dan sunyi ketika kita berada di dalamnya. Saat masuk ke gedung layanan, kita akan melihat berbagai stand banner terpajang di lobby perpustakaan. Tampak meja besar sebagai layanan informasi menutupi ruang baca dengan buku tertata rapi pada rak. Tak ketinggalan tempat baca bagi pemustaka yang ingin membaca di dalam perpustakaan juga disediakan meja panjang lengkap dengan colokan listrik di atasnya, mirip gaya cangkrukan (nongkrong) warung kopi di Surabaya.

Saat ini Perpustakaan Provinsi Jawa Timur memiliki 137.129 judul atau 490.117 eksemplar yang terdiri dari bahan bacaan buku, koleksi deposit dan referensi. Bahan bacaan buku terletak di lantai satu sedangkan untuk koleksi deposit dan referensi berada pada lantai dua. Koleksi deposit dan referensi merupakan koleksi buku yang tidak bisa dipinjam, tetapi bisa dibaca di tempat. Disperpusip Jawa Timur juga memiliki koleksi unggulan yaitu koleksi muatan lokal Jawa Timuran, Koleksi ini di letakkan tersendiri di dalam almari kaca yang memanjang pada salah satu sisi dinding. Sebanyak 14 almari yang ditata memanjang, digunakan untuk menyimpan koleksi 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur. Koleksi muatan lokal ini berisikan berbagai data profil, koleksi kuno, karya sastra peninggalan kerajaan di Jawa Timur yang terdapat di setiap kota dan kabupaten. “Beberapa koleksi ini, telah dialihmediakan dan dapat diakses pada website perpustakaan,” tutur Yitsak Gideon Perkasa, staf bagian perencanaan.

Kuantitas SDM yang masih kurang

Disperpusip Provinsi Jawa Timur saat ini memiliki 36 orang pustakawan yang terbagi atas 11 pustakawan terampil dan 25 orang pustakawan keahlian. Dari 36 orang tersebut 28 orang berlatar belakang pendidikan pustakawan, sedangkan sisanya merupakan pustakawan dari jalur inpassing. Disperpusip Provinsi Jawa Timur pada 2021 menerima 8 orang pustakawan, di antaranya 2 orang dari seleksi CPNS dan 6 orang dari inpassing. Di antara 6 orang tersebut, 2 orang merupakan mantan Kepala Dinas yang ikut alih status menjadi fungsional pustakawan ahli utama. Namun, meski berasal dari inpassing, sebagian pustakawan tersebut masih ada yang mau belajar kegiatan sebagai pustakawan. Salah satunya yaitu Siwi salah seorang pustakawan ahli muda. “Saat ini saya masih belajar mengenai perpustakaan, karena baru saja menjadi fungsional pustakawan. Sebelumnya, saya menjadi staf di bagian sekretariat.” katanya.

Hasto Hendarto Sekdis Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur menuturkan, meski didukung oleh 116 orang, Disperpusip masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM). “Saat ini terdapat beberapa jabatan kosong yang diisi pejabat Pelaksana Tugas (Plt) yang ada di Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur. Bahkan terdapat 4 staf yang merangkap dua jabatan. Keempat jabatan tersebut adalah Sekretaris Dinas, Kepala Sub Bagian Penyusunan Program dan Anggaran, Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan dan Informasi, Kepala Sub Bidang Pengolahan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan,” kata Hasto.

Selain kekurangan SDM di struktur Disperpusip Jawa Timut, jumlah pustakawan Provinsi Jawa Timur sendiri juga masih banyak kekurangan. Jumlah pustakawan di Provinsi Jawa Timur berjumlah 249 orang, sedangkan jumlah perpustakaan yang terdata oleh Disperpusip Provinsi Jawa Timur berjumlah 27.800 perpustakaan yang melayani 40,67 juta penduduk. Padahal, standar IFLA (International Federation of Library Associations and Institutions) dalam perhitungan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), perbandingan antara pustakawan dengan jumlah penduduk adalah 1:2500. Artinya satu orang pustakawan melayani 2500 orang penduduk. Alhasil, rasio ketercukupan tenaga pustakawan di Provinsi Jawa Timur hanya 0,000006. Permasalahan ini sudah menjadi permasalahan dari tahun ke tahun, sebab jumlah ketersediaan pustakawan menjadi salah satu penilaian dalam IPLM Perpustakaan Nasional. Untuk mengatasi hal ini, Disperpusip Provinsi Jawa Timur telah mengusulkan penambahan pustakawan kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur. Namun saat formasi tersebut sudah masuk di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) tidak sesuai dengan yang diajukan, bahkan Disperpusip pada akhirnya tidak diberikan formasi pustakawan.

Lawas tetapi Berkualitas

Disperpusip Provinsi Jawa Timur dulunya bernama Pusat Pembinaan Perpustakaan dan Perpustakaan Negara, saat ini masih menempati gedung yang dibangun sejak 1989. Dengan kata lain gedung yang ditempati saat ini yaitu gedung lama. Dari sisi tata letak pun, menurut orang yang dulu pernah berkunjung ke perpustakaan, hampir tidak mengalami perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun Disperpusip Provinsi Jawa Timur terbagi di 3 (tiga) lokasi berbeda, di antaranya untuk kegiatan perpustakaan berada di Jl. Menur Pumpungan 32 Surabaya, kegiatan kearsipan di Jl. Jagir Wonokromo 350 Surabaya, dan gedung depo arsip di Jl. Pandaan, Surabaya. Gedung perpustakaan sendiri terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian layanan berada di depan dan bagian sekretariat di bagian belakang. Hasto meyakinkan, gedung Perpustakaan Provinsi Jawa Timur merupakan gedung perpustakaan paling kuno di antara gedung Perpustakaan Provinsi lainnya, utamanya di Pulau Jawa. Pasalnya, tidak ada anggaran pembangunan atau renovasi gedung. Ditambah adanya pandemic covid-19 yang memaksa pemerintah untuk memprioritaskan anggaran untuk penanganan pandemi. Kendati begitu, sebelum adanya pandemi, pengunjung perpustakaan yang kebanyakan mahasiswa dari kampus di sekitar Kota Surabaya tetap ramai. Mereka meminjam berbagai bahan pustaka untuk keperluan perkuliahan. “Meskipun infrastruktur terkesan kuno, yang terpenting adalah esensi dari perpustakaan itu sendiri yaitu memberikan layanan baca secara maksimal,” ucap Yitsak.

Selain mahasiswa, kunjungan siswa siswi Sekolah Dasar juga menjadi rutinitas Disperpusip Jawa Timur. Dengan memanfaatkan ruang anak sebagai titik kumpul siswa siswi tersebut, berbagai kegiatan seperti mendongeng, bercerita, atau kegiatan bermain yang disisipi pembelajaran. Desain dinding penuh warna dan konsep lesehan dengan lantai beralaskan karpet, membuat anak-anak lebih nyaman saat berada di perpustakaan.

 

 

Inovasi di kala pandemi

Pandemi covid-19 berdampak besar pada Disperpusip Provinsi Jawa Timur, terutama dalam pelayanan perpustakaan. Pembatasan interaksi antar manusia menimbulkan kebingungan pustakawan maupun pemustaka. Sebab, sebelum adanya pandemi Disperpusip hanya memberikan pelayanan secara langsung kepada masyarakat, seperti layanan sirkulasi, program perlombaan untuk anak, dan perpustakaan keliling. Dengan adanya pandemi dan pembatasan pergerakan publik, perpustakaan kehilangan objek utamanya yaitu masyarakat.

Yitsak Gideon Perkasa staf Perencanaan Disperpusip Provinsi Jawa Timur menuturkan dengan gaya khas Surabaya, menurutnya selama pandemi, Perpustakaan Provinsi Jawa Timur tidak melayani pengunjung secara langsung, namun hal tersebut tidak serta merta membuat perpustakaan mati suri. Program dan layanan perpustakaan harus tetap berlangsung, sehingga diperlukan ide-ide yang menginovasi agar dapat menjadi solusi dikala pandemi ini.

Disperpusip Provinsi Jawa Timur berimprovisasi pada beberapa layanan yang ada, seperti adanya layanan drive-thru untuk layanan sirkulasi dan DOLEN (Dongeng Online) pada layanan anak. Layanan drive-thru ini memungkinkan pemustaka untuk melakukan peminjaman secara online dan selanjutnya pemustaka hanya perlu mengambil buku tanpa harus turun dari kendaraan. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontak langsung dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Namun, tidak semua orang bisa meminjam buku melalui layanan ini. Syarat utama yang boleh meminjam adalah memiliki kartu anggota perpustakaan atau memiliki KTP Jawa Timur atau instansi yang telah memiliki perjanjian Kerjasama (MoU) dengan Disperpusip. Apabila pemustaka belum memiliki kartu anggota, pada layanan drive-thru ini juga bisa dibuatkan langsung kartu anggota. Selain menerapkan protokol kesehatan saat peminjaman, buku-buku yang akan dipinjam harus melalui tahap sterilisasi dari debu menggunakan alat khusus. Kemudian, buku yang telah dibaca dan dikembalikan akan diisolasi terlebih dulu selama 3 hari, kemudian baru boleh masuk rak yang semestinya, lagi-lagi hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus covid-19.

Dampak pandemi juga dirasakan pada ruangan anak yang memiliki program story telling, atau yang biasa isebut dongeng anak dan remaja keliling “DARLING”. Semula, kegiatan ini menggunakan mobil perpustakaan keliling (MPK). Namun, dengan adanya pandemi, kegiatan diubah menjadi online melalui media sosial seperti Instagram. Program tersebut pernah mendapatkan penghargaan Innovative Government Award (IGA) pada 2019 lalu. Program tersebut dilakukan di 121 lokasi dengan 8 ribu peserta. Gara-gara pandemi kegiatan ini berhenti total dan diganti dengan kegiatan Dolen (bermain dalam Bahasa Jawa). Yaitu Dongeng Online. Kegiatan ini merupakan kegiatan dongeng secara daring melalui media sosial. Kegiatan Dolen dilakukan rutin 2-3 kali seminggu Kegiatan ini dilakukan oleh para pustakawan Disperpusip semata-mata untuk mempertahankan budaya baca dan bisa memberikan layanan kepada masyarakat Surabaya meski covid-19 masih mewabah,” ucap Yitsak.

 

 

Berapa dan untuk apa?    

Disperpusip Jawa Timur pada 2020 mendapatkan APBD sebesar Rp 44.4 miliar. Dari anggaran tersebut, anggaran utuk program kegiatan perpustakaan sebesar Rp 9.7 miliar atau sekira 21,8%. Anggaran tersebut terbagi ke dalam 6 program dan 25 kegiatan seperti kegiatan Darling, alih media koleksi Jawa Timuran, dan lain sebagainya. Sedangkan pada 2021 anggaran perpustakaan turun menjadi Rp 7,3 miliar. Disperpusip Provinsi Jawa Timur sebenarnya meminta tambahan anggaran untuk renovasi gedung perpustakaan kepada Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah), namun untuk saat ini renovasi perpustakaan belum bisa dilaksanakan. Sebab, pemerintah daerah masih memprioritaskan penanganan covid-19. Selain dari APBD Disperpusip juga mendapatkan dana dekonsentrasi dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sebesar Rp 400 juta. Dana dekonsentrasi itu seluruhnya dialokasikan untuk promosi dan pengembangan perpustakaan seperti perlombaan perpustakaan tingkat desa, kecamatan, provinsi, dan perpustakaan sekolah.

IPLM dan IKM

Yang menjadi perhatian selanjutnya yaitu Indeks Kegemaran Membaca (IKM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Kedua indeks ini adalah patokan yang digunakan Perpustakaan Nasional dalam melihat perkembangan literasi di masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) memasukkan peningkatan budaya literasi dalam program nasional revolusi mental dan kebudayaan, yang ditargetkan mendapat skor 65,70 pada 2022. Bahkan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menargetkan Indeks Kegemaran Membaca (IKM) dengan angka 71,3 dengan skala 1-100 pada 2024. Dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dengan skor 15,0. Data perhitungan IKM Perpusnas pada 2020 menunjukkan indeks kegemaran membaca warga Provinsi Jawa Timur adalah 63,96 atau peringkat kedua se-Indonesia, di bawah Provinsi Kalimantan Selatan. Ini menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat di Provinsi Jawa Timur sudah termasuk dalam kategori tinggi. Akan tetapi, nilai IPLM Provinsi Jawa Timur masih 13,44 atau peringkat ke-16 di Indonesia.

 


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *