/home/u612842942/domains/perpustakaan.kemendagri.go.id/public_html/opac/lib/SearchEngine/DefaultEngine.php:610 "Search Engine Debug 🔎 🪲"
Engine Type ⚙️: "SLiMS\SearchEngine\DefaultEngine"
SQL ⚙️: array:2 [ "count" => "select count(distinct b.biblio_id) from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id where b.opac_hide=0" "query" => "select b.biblio_id, b.title, b.image, b.isbn_issn, b.publish_year, mp.publisher_name as `publisher`, mpl.place_name as `publish_place`, b.labels, b.input_date, b.edition, b.collation, b.series_title, b.call_number from biblio as b left join mst_publisher as mp on b.publisher_id=mp.publisher_id left join mst_place as mpl on b.publish_place_id=mpl.place_id where b.opac_hide=0 order by b.last_update desc limit 10 offset 290" ]
Bind Value ⚒️: []
"Insya Allah, Saya Serius" adalah judul buku kumpulan tulisan Gus Dur yang subjudulnya "NU, Muhammadiyah dan Budaya Arab" merujuk pada isi yang membahas Islam, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, serta ketegangan antara budaya lokal, Islam, dan Arab.
Identitas hibrid orang Tionghoa mengacu pada perpaduan budaya Tionghoa dengan budaya lain, seperti budaya lokal di Indonesia, sehingga menciptakan identitas yang unik. Ini bisa terwujud dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, gaya hidup, profesi, hingga keyakinan spiritual yang mencampur elemen Tionghoa dengan tradisi lokal seperti Jawa atau agama samawi (misalnya Islam, Kristen).
Gus Dur memandang gender secara setara, menekankan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan berdasarkan kemanusiaan dan perbedaan biologis. Ia berpegang pada Al-Qur'an yang mengisyaratkan kesetaraan antara pria dan wanita, serta meyakini perempuan memiliki hak yang sama sebagai manusia untuk mencapai potensi mereka di mata Allah. Meskipun pandangannya inklusif, ia juga pernah menerima kriti…
Di Indonesia, kebebasan berpendapat adalah hak fundamental yang dijamin undang-undang, memungkinkan setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dan ide secara bebas melalui lisan, tulisan, atau cara lain. Hak ini harus dilaksanakan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta dibatasi demi menjaga keamanan, ketertiban, dan hak-hak oran…
"Bebetei Uma: Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi" adalah buku karya Bambang Rudito yang mendeskripsikan keyakinan dan pandangan hidup masyarakat Mentawai melalui upacara adat. Buku ini menganalisis bagaimana upacara ini berfungsi sebagai cara beradaptasi terhadap perkembangan budaya luar, menjaga identitas, dan memastikan kelangsungan budaya di tengah modernisasi. Buku ini merupakan s…
Buku Menjadi Hawa mengupas pengalaman perempuan dari dua dimensi utama: biologis dan sosial. Melalui pendekatan multidisipliner, penulis menelusuri bagaimana tubuh perempuan—sebagai entitas biologis—tidak hanya menjadi pusat pengalaman fisik seperti menstruasi, kehamilan, dan menopause, tetapi juga menjadi ruang makna sosial yang sarat konstruksi budaya, moral, dan politik.
Musik populer Indonesia dekade 1970-an ditandai dengan kejayaan genre pop yang dipelopori oleh grup seperti Koes Plus dan musisi seperti Chrisye, Titiek Puspa, serta Ebiet G. Ade. Pada saat yang sama, dangdut mengalami kebangkitan pesat di bawah pimpinan Rhoma Irama, menjadi genre populer yang merakyat. Perkembangan penting lainnya adalah munculnya Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors pada t…
"Negara Melodrama" adalah buku karya Garin Nugroho yang membahas peristiwa sosial politik aktual di Indonesia, terutama dari tahun 2012 hingga kini, melalui kajian media dan budaya. Buku ini menggambarkan bagaimana politik, media, dan korporasi saling berkaitan dalam menciptakan narasi yang cenderung mengedepankan emosi dan drama ketimbang rasionalitas, menciptakan pemilih yang 'melodramatik'.
Kegiatan penelitian yang dilakukan P2MB ini merupakan salah satu contoh penting bagaimana satu riset dapat diawali atau dikembangkan melalui sifat kritis peneliti pada permasalahan sosial, Intuisi kritis ini menjadi penting karena menjadi modal dasar yang harus dimiliki oleh para peneliti dalam melakukan kerja penelitiannya. Buku ini diharapkan setidaknya dapatmemberi pencerahan kepada masyarak…
Tahu Sumedang adalah kuliner ikonik yang sejarahnya dimulai dari tahun 1917 ketika imigran Tionghoa bernama Ong Kino datang ke Sumedang dan membuat tahu. Anaknya, Ong Bung Keng, kemudian mengolah tahu dengan cara digoreng, menciptakan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam yang membuatnya sangat populer, sehingga bisnisnya dikenal sebagai Tahu Bungkeng.