Text
Meretas radikalisme menuju masyarakat inklusif
ISU INTOLERANSI bukanlah masalah baru dalam ranah pergaulan sosial di Indonesia, karena gejalanya sudah muncul sejak masa-masa awal negeri ini merdeka. Ia sudah mirip dengan penyakit laten yang menahun, yang kadangkala kumat menjadi realitas sosial, dan mengakibatkan friksi di masyarakat, manakala ada momentumnya. Gejala intolerasi yang seringkali muncul di masyarakat adalah berlatar etnis dan agama. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa rezim Orde Baru melarang keras ujaran-ujaran yang menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan).rnBuku ini tidaklah ditujukan untuk menjelaskan eskalasi kasus-kasus intoleransi di Indonesia dari perspektif “teori” kebangsaan. Buku ini lebih dimaksudkan sebagai bahan renungan, mengapa ia sampai terjadi, dan saya berasumsi bahwa masalah laten yang melatar belakanginya terutama adalah karena kelompok dominan dalam masyarakat masih tidak bisa menerima sosok liyan sebagai saudara sebangsa. Liyan adalah “yang lain”, “bukan kita”. Sampai saat ini masih banyak di antara anak bangsa yang menganggap liyan itu harus disingkirkan, atau sekurang-kurangnya ditampik keberadaannya.
No other version available