Text
Jurnalisme Kemiskinan
Apakah suara kaum papa telah mendapat tempat yang memadai di ruang media? Bagaimana kaum papa direpresentasikan di halaman media? Buku ini ingin menjawab pertanyaan tersebut. Dari sudur kajian budaya kritis, buku ini menyoroti bagaimana latar budaya pemilik media dan terutama para wartawan, turut mempengaruhi wawasannya mengenai kemiskinan dan mengapa pemberitaan mengenai kemiskinan menjadi penting. Buku ini menunjukkan bahwa proses ekslusi orang miskin yang terjadi secara nyata juga tergambar di halaman media. Media memperkuat ideologi konsensus yang menekankan kemiskinan sebagai obyek bantuan dan memperkuat anggapan yang memandang kemiskinan sebatas masalah sosial dan data statistik sehingga terbatas di dalam meninjau sisi kemanusiaannya. Karena itu, diperlukan representasi berita alternatif yang dijalankan oleh jurnalis lokal sebagai agen sosial dan aktor wacana. Sehingga representasi dominan hegemonik masih dihadapi dengan representasi hegemoni-tandingan. Hal ini bisa membuka ruang kemungkinan bagi pluralisme pandangan dan suara bagi orang miskin di halaman media.
No other version available