Text
Konferensi Asia-Afrika 1955 : asal usul intelektual dan warisannya bagi gerakan global antiimperialisme
Konferensi Asia Afrika tidak asing ditelinga publik. Pada 18-24 April 1955, KAA berlangsung di Bandung dihadiri delegasi dari 29 negara Asia dan Afrika untuk perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA). Tujuan utamanya adalah agar lebih mengakomodasi persoalan-persoalan Asia-Afrika, baik di bidang ekonomi, politik, hingga sosial. KAA adalah kulminasi dari banyak aspirasi: solidaritas Asia-Afrika, dekolonisasi, perdamaian dunia, dan kemungkinan membentuk aliansi baru. Hari-hari terakhir KAA pada Sabtu malam, 23 April 1955, komite pengurus tanpa pembahasan bertele-tele menerima naskah yang merekomendasikan 8 negara Asia-Afrika untuk menjadi anggota PBB. Atas dasar prinsip universalitas, direkomendasikan bahwa negara-negara peserta KAA, yaitu Kamboja, Jepang, Yordania, Libya, Nepal, Sri Lanka dan “Vietnam Bersatu” harus diterima sebagai anggota. KAA adalah forum yang penting. KAA mempengaruhi legitimasi politik, pemerintahan, dan masyarakat. Pergulatan simbolik dalam konferensi tersebut dimainkan di hadapan dunia. Sekaligus memiliki konsekuensi nyata bagi diplomasi politiknya. Di sisi lain, Bandung menjadi saksi penting atas bertemunya para pejuang kebebasan dan gerakan anti kolonial. Mewakili kepentingan negaranya, dan masyarakatnya masing-masing. Kepentingan masyarakat yang bebas dari belenggu dan hegemoni kolonial. Kepentingan yang direpresentasikan sendiri, bukan ditafsir oleh dunia Barat.
No other version available