Text
Ensiklopedi Presiden Republik Indonesia: Habibie
Buku Ensiklopedi Presiden Republik Indonesia : Habibie berisi biografi perjalanan Habibie mulai dari lahir, pendidikan, karier, terjun ke dunia politik hingga sampai menjadi presiden. Sebagaimana dengan Habibie, takdirlah yang membawa beliau menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3 . Habibie tidak akan menjadi presiden atau berkesempatan menjadi presiden jika ia tidak mempunyai kualitas, kapasitas, dan kapabilitas seorang presiden. Sebelum maupun di saat menjadi presiden, berbagai rintangan dihadapi. Di ranah politik, Habibie mencapai puncak karier ketika ia menggantikan jabatan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Di saat itu rentetan peristiwa yang tidak mudah ia lalui di detik-detik peralihan kekuasaan tersebut. Ia menyaksikan banjir darah dan air mata rakyat yang menjadi tumbal “Revolusi Mei”. Ia berada di depan arena persaingan jenderal-jenderal yang mencari selamat dan merencanakan jabatan strategis di hari-hari akhir Soeharto. Ia bahkan mengalami langsung penyikapan Soeharto atas dirinya: dianggap tak layak menjadi presiden, diacuhkan di hari pelantikannya sebagai presiden, serta diabaikan ketika Soeharto melenggang keluar dari Istana Merdeka. Hingga Soeharto Wafat pada 2008, usaha Habibie untuk berkomunikasi dengan sang mantan presiden pun selalu gagal.rnrnUntuk ke-dua kalinya Habibie mengalami rasa ketidaknyamanan ketika Presiden BJ Habibie turun dari jabatannya setelah pidato pertanggungjawabnya ditolak Sidang Umum MPR 1999, ia memahami peristiwa miris itu sebagai ketidaksinkronan rasionalitas kepemimpinannya dengan tuntutan publik yang ingin segera terlepas dari krisis politik dan krisis ekonomi. Tentu saja ia juga menyadari kuatnya kepentingan partai-partai politik untuk menjegalnya di masa itu.rnrnSikap optimis dan rasional yang dimilikinya selalu dipegangnya, Habibie bukan berarti tak pernah merasa terpuruk. Dalam beberapa hal ia merasa kesepian. Ia pernah dipandang sebelah mata oleh Soeharto. Ia sempat disingkirkan dari Golkar, partai yang dimasukinya sejak ia berpolitik. Tapi, rasa kesendiriannya yang paling ia rasakan adalah saat Ainun, sang istri, meninggal dunia.rnrnMenjelang pesta demokrasi pada tanggal 17 April 2019 Habibie berpesan kepada para pendukungnya dan seluruh Bangsa Indonesia, agar tetap semangat dan memberi dukungan kepada siapa pun presiden terpilih. Dan beliau juga mengemukakan bahwa keliru besar memusuhi presiden baru dalam kondisi negara yang belum stabil. Dan cukup dirinya selama 512 hari pasang badan merasakan protes terbuka dan intrik kekuasaan (hal. 156).rnrnBuku ini sangat menarik untuk dibaca karena cerita panjang tentang Habibie dicatat lengkap dan mengisahkan Habibie sebagai manusia biasa dengan peristiwa, pencapaian, serta hambatan yang ia alami dalam hidupnya. Siapa pun tak mungkin menjadi manusia sempurna, begitu juga Habibie. Terdapat banyak hikmah yang bisa dipetik dari riwayatnya tersebut, termasuk pentingnya mengapresiasi akal dan pikiran, serta tetap bersikap bijak di posisi yang melampaui kebanyakan orang.
No other version available