Text
Ken Angrok Sang Brahmaputra
Pada akhir abad-12 di Jawadwipa, disaat pertentangan hebat antara Janggala dan Panjalu belum menemukan titik penyelesaian, seorang anak manusia lahir dari wanita sudra cantik di Pangkur, sebuah pradesa yang masuk dalam wilayah Pakuwon Tumapêl. Anak ini dikenal dengan nama Angrok. Sewaktu masih dalam kandungan, keberadaannya telah membawa korban tewasnya bapa tirinya, Gajahpara. Tak bisa ditampik bahwa anak ini adalah seorang Lêmbu Pêtêng, yaitu anak berdarah ksatria yang terlahirkan dari wanita sudra dan keberadaannya disembunyikan. Kematian Gajahpara jelas-jelas menunjukkan bahwa sang rama pemilik benih ksatria tidak merelakan jika benih yang ditanam di rahim sang wanita sudra akan tercemari oleh benih sudra Gajahpara.
Ketika lahir, Angrok memiliki ciri toh di perutnya serupa dengan yang dimiliki mendiang Gajahpara. Tidak mengingini anaknya akan tumpas oleh sang rama, sang biyang, Ni Ĕndhog membuangnya ke pabajangan Kabalon. Sudah menjadi suratan karma, Angrok ditemukan oleh Ki Lembong, seorang maling yang kebetulan tengah melakukan aksinya di Kabalon, tempat yang dikenal sebagai gudangnya emas di Daha. Oleh Ki Lembong, Angrok dididik dan dibesarkan. Dia tumbuh ditengah pergolakan berdarah-darah antara Janggala dan Panjalu yang tiada pernah ada habisnya. Ketika usianya menginjak dewasa, dirinya bertemu dengan putra Rama Sagênggêng, Tita, yang banyak menorehkan jiwa kepemimpinan. Pertemuan dengan Tita mengantarkannya bertemu dengan Jêjanggan Sagênggêng dan Rêsi Prasanta. Pertemuannya dengan Tita juga menyeret-nyeret pada permasalahan pelik permusuhan dengan Daha dan Tumapêl!
No other version available