Text
Teh dan Penghianat
Tiga belas cerpen terangkum dalam Teh dan Pengkhianat. Sekalipun ramuan yang digunakan masih relatif sama, yaitu lebih menitikberatkan kepada tokoh seorang Belanda, baik yang murni maupun tergolong Mestizo—berdarah campuran setengah Eropa—sembari menyebarkan pesan-pesan jikalau sejarah itu tak selalu hitam putih, melainkan berwarna-warni. Kisah-kisah yang dituturkan terasa Lebih menarik karena tak cuma berbicara terkait perang. Lembaran awal hingga akhir dapat menyentuh perkara kemanusiaan, perkara fanatisme buta, harapan, pengorbanan, hingga perjuangan, yang dalam hal ini perjuangan melawan ketidakadilan. Ranah kemanusiaan dalam karya ini dapat dilihat dari Kalabaka. Tulisan tersebut mengangkat fakta sejarah terkait pembantaian orang-orang Banda Neira di Maluku (Banda) yang dilakukan oleh tentara. Serangan itu bahkan diceritakan melibatkan seratus orang samurai bayaran atau ronin. Dikisahkan, seorang schutterij—milisi nontentara dari kalangan terhormat yang mahir menggunakan senjata—yang notabene orang Belanda ternyata masih memliki hati nurani dan menolak keras kekerasan yang dilakukan di daerah tersebut, sekalipun ia dihukum.
No other version available