Perpustakaan Amir Machmud

Kementerian Dalam Negeri

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject ISBN/ISSN Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Siedjah : melintasi tapal batas kepicikan kolonial
Bookmark Share

Text

Siedjah : melintasi tapal batas kepicikan kolonial

Vink, Nico - Personal Name; Frieda Amran - Personal Name; Lea Pamungkas - Personal Name; Maya Sutdja-Liem - Personal Name;

Untunglah, ayahku si orang Kampen dan ibuku si orang Nijkerk, membuatku lahir di Amsterdam. “Kami punya anak perempuan,” begitu sorak Klaas Bremen, guru muda di Kawasan De Pijp, Amsterdam. Dalam akte kelahiran dia memberiku nama Siebrigje. Tepatnya Siebrigje Bremer. Lahir 23 September 1899. Tentu aku tidak ingat sama sekali tentang itu. Walaupun nama depanku berbau Friesland, sebuah provinsi Belanda dekat Jerman, aku langsung merasa nyaman di Amsterdam. Waktu usiaku sekitar satu atau dua tahun, orang tuaku yang tersesat di Amsterdam, kembali ke Nijkerk, ke dunia Kristen ibuku. “Karunia Tuhan,” begitu kata mereka. Di Nijkerk, kota kecil di wilayah bible belt 1, ayahku menunggu pekerjaan bagus sebagai kepala sekolah dasar negeri. Dalam naungan tenang sekolah yang berpedoman pada Alkitab, di Nijkerk, aku belajar di sekolah dasar umum. Untungnya, saat-saat yang dulu dianggap indah, sudah lama berlalu. Guruku tidak lagi mengolok anak-anak nakal dengan kata-kata kasar. Guruku tidak lagi melempari anak-anak nakal dengan pechvogel, boneka dari kain. Kami tidak lagi dipukul dengan penggaris atau disebat dengan roe, ranting-ranting yang diikat menjadi satu seperti sapu lidi. Jika kami nakal atau berkata sesuatu yang tolol, leher kami pun tidak digantungi kertas dengan kalimat yang memalukan atau kertas yang menandai kami sebagai anak bodoh bak keledai. Meski begitu, aturan sekolah masih tetap keterlaluan seperti dulu. Anak-anak sekolah harus berseka, bersisir rapih, dan memakai baju bersih. Juga harus ramah dan sopan. Mereka harus menghafal bukubuku yang dipelajari di sekolah dan yang telah diajarkan oleh para guru. Dalam berbicara, mereka pun harus bersikap tenang dan sopan. Bagiorang tuaku, Amsterdam adalah kota para penyembah berhala, penuh batu, dingin, dan kejam. Ayahku adalah orang Kampen, kamu sudah tahu itu. Pekerjaannya yang pertama sebagai guru adalah di Kampen, daerah yang berdekatan dengan Nijkerk. Di sana ia berpapasan dengan seorang perempuan muda dari Nijkerk. Perempuan itu seorang Malga, dari kalangan penjual buku. Jadi sangat melek huruf. Cikal bakal orang Malga adalah seorang serdadu Spanyol dari Tentara Alva, seorang Jenderal Spanyol ternama, yang membelot, begitu kata orang. Dia datang dari Malaga, dari situlah muncul nama Malga. Garagara seorang perempuan petani Nijkerk, Si Spanyol tetap di situ. Hampir semua penduduk Nijkerk mengenal kisah ini. Kisah ini diceritakan kembali oleh penduduk Nijkerk pada saat minum kopi setelah khotbah hari Minggu. Jadi aku tidak sepenuhnya dibesarkan di Amsterdam. Tampaknya aku lebih mirip campuran Nijkerk-Gelderland dan Kampen-Overijssel. Tapi tidak gitu juga sih, aku tidak seperti itu. Pertama kita bicara dulu sedikit tentang keluargaku, Mengapa


Availability
#
Location name is not set 920 VIN s
SJN00004840
Available
Detail Information
Series Title
-
Call Number
920 VIN s
Publisher
Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.,
Collation
viii, 396 halaman ; 21 cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-937-1
Classification
920
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
Cetakan Pertama, September 2020
Subject(s)
Biografi
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
Nico Vink ; penerjemah Frieda Amran, Lea Pamungkas , dan Maya Sutdja-Liem.....
Other version/related

No other version available

File Attachment
No Data
Comments

You must be logged in to post a comment

Perpustakaan Amir Machmud
  • Information
  • Librarian
  • Admin
  • Penghitung Pengunjung

About Us

Perpustakaan Amir Machmud (NPP. 3171014A0000008) merupakan perpustakaan khusus. Perpustakaan Amir Machmud memiliki slogan “Suluh Bacaan Politik dan Pemerintahan”.

Filosofi slogan tersebut bermakna perpustakaan Amir Machmud dapat menjadi penerang bagi pemustaka dalam mencari sumber informasi sekaligus referensi terkait politik pemerintahan.

Jam Pelayanan

  • Senin-Jum'at 07.30-16.30
  • Sabtu-Minggu Libur

Ikuti di Instagram Tonton di YouTube

© 2026 — Perpustakaan Amir Machmud Kemendagri

Powered by Kementerian Dalam Negeri
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search
Where do you want to share?