Text
Tangklukan, Abangan, dan Tarekat: Kebangkitan Agama di Jawa
Membaca trend keberagamaan di Indonesia dewasa ini, terlihat sekali bahwa spirit agama belum menjadi common denominator (kalimatun sawa’) dalam merancang etika kebangsaan dan kenagaraan. Yang terjadi agaam justru dijadikan komoditas kepentingan (politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya), sehingga pesan agama dalam membangun persaudaraan dan perdamaian seringkali tersendat, terlantar, bahkan tergadaikan. Sejarah mencatat bahwa sidang konstutuante tahun 1950-an gagal mencapai kesepakatan dikarenakan elite politik menjadikan agama sebagai komoditas kepentingan, sehingga rumusan agenda kebangsaan gagal terwujud. Berbeda dengan yang dilakukan para Wali Songo. Agama ditangan para wali justru tampil sebagai spirit dalam melakukan kerja-kerja kebangsaan. Spirit agama tampil digarda depan untuk membuka kran-kran penindasan dan penjajahan. Spirit keberagamaan Wali Songo inilah yang coba ditelaah lebih mendalam dalam buku "Tangklukan, Abangan, dan Tarekat; Kebangkitan Agama di Jawa". Penulis melihat bahwa para wali mampu menampilkan agama sebagai spirit persaudaraan dan perdamaian. Agama tidak melihat perbedaan status sosial masyarakat tertentu. Pesan keberagamaan para wali itu kemudian dilanjutkan para kiai di Jawa. Buku secara kritis membaca gerakan perdamaian dakwah agama KH Ahmad Durri Nawawi, mursyid tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah Kajen Pati Jawa Tengah. Para kiai pemimpin tarekat di Indonesia telah membawa agama Islam dengan strategi yang sangat halus, damai, dan moderat. Jalan moderat para kiai tarekat tersebut terlihat ketika mereka mengajak umat memeluk agama. Mereka tidak pernah memaksakan agama Islam kepada masyarakat. Mereka lebih concern mengajak masyarakat untuk menebarkan persaudaraan. Terbukti, para kiai bisa tampil berdakwah dengan lapisan masyarakat yang beragam. Gus Mik Kediri, misalnya, justru tampil dengan para preman, germo, dan para gelandangan di Surabaya dan sekitarnya. Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari justru memilih desa Tebuireng sebagai tempat pesantren, padahal Tebuireng waktu itu merupakan markas besar para bromocoroh (penjahat). Demikian juga KH As’ad Samsul Arifin yang mampu mengakrabi pimpinan bromocoroh daerah Tapal kuda, sehingga banyak pengikutnya yang masuk Islam kepada Kiai As’ad. Dalam konteks perjuangan membela kemerdekaan, merekalah yang mampu memobilisasi massa dalam mengusir berbagai tindak penjajahan. Bahkan ketika melakukan pertempuran di Ambarawa Jawa tengah, banyak para kiai yang gugur, termasuk KH Mahfudh Salam, ayah KH MA. Sahal Mahfudh (hal. 230).
No other version available