Perpustakaan Amir Machmud

Kementerian Dalam Negeri

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject ISBN/ISSN Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Sang Penggerak Nahdlatul Ulama. KH. Abdul Wahab Chasbullah Sebuah Biografi: Peletak Dasar Tradisi Berpolitik NU
Bookmark Share

Text

Sang Penggerak Nahdlatul Ulama. KH. Abdul Wahab Chasbullah Sebuah Biografi: Peletak Dasar Tradisi Berpolitik NU

Safrizal Rambe - Personal Name;

KATA PENGANTAR PRESIDEN LAJNAH TANFIDZIYAH PP SYARIKAT ISLAM

Dr. Hamdan Zoelva, SH, MH

KH. Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) adalah seorang ulama yang memiliki jasa besar dalam memperjuangkan nasionalisme dan syiar Islam di Indonesia, sejak era kolonial di awal abad ke-20 hingga diproklamasikannya negara Republik Indonesia. Perjuangannya memperlihatkan peran penting seorang tokoh dalam membawa nilai-nilai kelslaman dan kelndonesiaan yang modern dan humanis kedalam lingkungan ulama dan santri di Indonesia. Beliau adalah figur ulama pendobrak yang aktif berbuat, kreatif dan visioner layaknya seorang pembaharu bagi kalangan Islam tradisi di masa itu. Kyai Wahab Chasbullah juga dikenal sebagai organisatoris ulung yang tidak hanya ulama dalam pengertian tradisional, namun visi masa depan yang diembannya telah mengantarkan kelahiran beberapa organisasi. Walaupun beliau lahir dari lingkungan tradisi pesantren namun nilai-nilai modernitas, seperti pembaruan pendidikan Islam (pesantren) dan terutama gagasannya untuk mendirikan beberapa organisasi modern sebagai medan perjuangan, beliau perkenalkan ke dalam lingkungan tradisi yang membesarkannya (pesantren).

Dibalik peran dominan Kyai Wahab Chasbullah dalam pendirian Nahdlatul Ulama, sesungguhnya karakter ulama pejuang mulai terbangun saat kali pertama Kyai Wahab aktif dalam dunia pergerakan, dengan bergabung kedalam organisasi populis pertama di Hindia Belanda kala itu; Sarekat Islam. Sarekat Islam sendiri seperti yang dicatat oleh Safrizal Rambe, penulis yang bukunya ada ditangan pembaca saat ini, di dekade Kedua abad keduapuluh yang merupakan periode paling bersemangat dalam pertumbuhannya, telah menjelma menjadi kekuataan massa rakyat. Pada tahun 1919 Sarekat Islam telah beranggotakan dua juta orang dengan 192 cabang yang tersebar luas di seluruh Hindia Belanda, yang bila ditambahkan dengan Maluku, Papua dan Nusatenggara maka luas jangkauan Sarekat Islam sama luasnya dengan luas wilayah Indonesia saat iniSarekat Islam sendiri di masa tersebut menjelma menjadi rumah besar umat Islam Hindia, dimana aspirasi politik ulama-ulama modernis dan tradisi dijalankan melalui wadah perjuangan Sarekat Islam.
Sama seperti Soekarno, Kyai Wahab memulai masa magangnya di dunia pergerakan lewat perkenalannya dengan Sarekat Islam. Bila Soekarno menimba langsung spirit pergerakan sewaktu ia indekost di rumah pemimpin Sarekat Islam, HOS. Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Surabaya dan selanjutnya terserap dalam gerakan Sarekat Islam-bahkan kemudian menikahi Siti Oetari, puteri Tjokroaminoto, Kyai Wahab juga tak berbeda jauh. Kyai Wahab sendiri berasal dari keluarga ulama progresif yang ayahandanya KH. Chasbullah sepenuhnya dapat menerima keikutsertaan ulama-ulama tradisi dalam gerakan Sarekat Islam. Hal ini pula yang kemudian membuka jalan kalangan ulama tradisi untuk bergabung kedalam Sarekat Islam termasuk Kyai Wahab. Kira-kira tahun 1913-1914 Saat Kyai Wahab Chasbullah menempuh pendidikan tingginya di Mekah, bersama gurunya KH. Raden Asnawi-Kudus dan dua ulama lainnya KH. Abbas-Jember dan KH. Muhammad Dahlan-Kertosono, ia mendirikan Sarekat Islam Cabang Mekah. Seperti yang dikatakan Greg Fealy, sepulang Kyai Wahab dari Mekah di tahun 1914 dan kemudian bermukim di Surabaya-kota yang menjadi pusat pergerakan Sarekat Islam, Kyai Wahab terus aktif di Sarekat Islam hingga tahun 1920-an. la menjadi salah satu anak muda Islam yang berbakat di lingkungan Tjokroaminoto (Fealy dalam Fealy and Barton, 1997-7)
Selanjutnya, tahun 1914 Kyai Wahab Chasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) dan dua tahun kemudian mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) untuk mengembangkan visinya tentang kemajuan dan sebagai unsur penting dalam memajukan Islam Indonesia (khususnya kalangan ulama dan santri di perdesaan). Kemudian di tahun 1920-an juga membentuk organisasi kepemudaan Sjubbannul watan (Pemuda Tanah Air) yang bertujuan untuk membentuk kader-kader muda Islam yang nasionalistik, cinta pada tanah air dan rela berkorban untuk negara. Menurutnya Islam dan Kebangsaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, bahkan menyatu seperti yang ditunjukkan beliau saat mendirikan Nahdlatul Ulama yang dinyatakannya “Untuk menuntut kemerdekaan, umat Islam tidak akan leluasa sebelum negara kita merdeka”.

Kyai Wahab Chasbullah juga membentuk Nahdlatut Tujar (Kebangkitan Pedagang), sebuah organisasi yang mendorong tumbuhnya jiwa entrepreneurship dikalangan pedagang pribumi agar dapat meningkatkan kesejahteraan mereka pada umumnya. Organisasi semacam ini penting dan kita melihat melalui pembentukan Nahdlatut Tujar, visi penguatan ekonomi umat yang senafas dengan apa yang sebelumnya diperjuangkan Sarekat Dagang Islam (SD) yang didirikan oleh Samanhudi pada tahun 1905, mengambil bentuk dakhwah ekonomi yang sebelumnya kurang diperhatikan kalangan umat Islam Indonesia. Kita tahu SDI yang merupakan pendahulu Sarekat Islam adalah organisasi yang memperjuangkan pedagang muslim dan kaum pribumi umumnya untuk bisa setara dengan pedagang-pedagang China, kalaupun masih lemah untuk bersaing dengan pedagang Eropa. Konstituen Nahdlatut Tujar tentu sama dengan konstituen SDI yang disebut Tirtoadhisoerjo sebagai “kaum mardika” atau “Vrije Burgers” (warga negara yang merdeka), yaitu orang-orang yang tidak menggantungkan hidupnya dari pemerintah kolonial, bebas dan indepedensinya terjaga dari tekanan pemerintah kolonial Belanda. Kyai Wahab yang sebelumnya telah bergabung dengan Sarekat Islam tentu sedikit banyaknya juga telah mendengar SDI dan menjadikan spirit pemberdayaan ekonomi umat juga sebagai salah satu medan perjuangannya.

Bersama ulama-ulama lainnya baik dari kalangan modernis dan tradisi, Kyai Wahab Chasbullah juga turut mengorganisir Kongres Khilafah pasca dihapuskannya ke-Khalifahan Turki Usmani oleh Mustafa Kemal Ataturk serta pembentukan Komite Hijaz untuk memperjuangkan agar tradisi bermazhab tetap dihormati oleh penguasa Arab audi saat itu, Raja lbnu Saud. Namun didorong agar aspirasi kalangan tradisi efektif diterima Raja Ibnu Saud, maka ide untuk mendirikan sebuah organisasi formal yang mewakili kepentingan kalangan tradisi dengan cepat bergulir. Bersama ulama lainnya, terutama gurunya Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ ari, pada tahun 1926 didirikanlah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) yang kelak menjadi organisasi Islam besar di Indonesia.

Tidak hanya itu, riwayat perjuangannya dalam turut memerdekakan Indonesia akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kyai Wahab Chasbullah adalah tokoh yang berada dibelakang keluarnya Resolusi Jjihad yang ditandatangani Hadratusy Syaikh Hasyim As’ ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Beliau-lah yang sengaja mengumpulkan para kyai untuk bertemu di Surabaya dalam rangka membahas dan memberikan dukungan pada para pejuang yang tengah berperang. Beliau juga yang mengarsiteki spirit perjuangan Islam dengan memasukan terminologi jihad, sebuah panggilan perang suci, ke dalam perang kemerdekaan yang tengah dihadapi arek-arek Suroboyo. Melalui Resolusi Jihad semangat bertempur para pemuda makin kuat, dan dari peristiwa perang besar di Surabaya pada 1o November 1945 setiap tahunnya kita merayakan Hari Pahlawan. Untuk menghargai kontribusi dan peran ulama serta santri dalam perjuangan kemerdekaan, Presiden Joko Widodo kemudian menetapkan tanggal dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Karena itu dapat dikatakan KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah Seorang ulama pejuang, dimana sejak pendirian Sarekat lslam Cabang Mekah, Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujar, Sjubbanul Wathan, Nahdlatul Ulama, periode revolusi dan terbentuknya negara Republik Indonesia, beliau telah membawa para ulama dan santri di perdesaan dalam kancah politik nasional dengan tekanan pada sintesa antara pemikiran kelslaman dan kelndonesian. Beliau adalah figur paripurna dari seorang ulama pejuang, pejuang ulama, yang peran dan kepeloporannya telah meninggalkan jejak yang tegas di bangsa ini. Dengan memperhatikan kontribusinya pada bangsa dan negara Presiden Jokowi dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Tahun 2014 telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada KH. Abdul Wahab Chasbullah yang jasa-jasanya tentu akan kita selalu kenang.

Saya menyambut gembira atas terbitnya buku “Sang Penggerak Nahdlatul Ulama, Peletak Dasar Tradisi Berpolitik Kaum Nahdliyin, KH. Abdul Wahab Chasbullah Sebuah Biografi”. Semoga buku ini dapat memberikan gambaran seutuhnya tentang figur seorang ulama besar, KH. Abdul Wahab Chasbullah yang jejak-jejak perjuangannya bagi agama (Islam), bangsa dan negara akan dicatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah dan pengaruhnya teresonansi hingga sekarang

Jakarta, 1 Ramadhan 1443 H.


Availability
#
Perpustakaan Amir Machmud 297.636 SAF s
SJN00006469
Available
Detail Information
Series Title
-
Call Number
297.636 SAF s
Publisher
Jakarta : PSP Madani Institute., 2022
Collation
xvii, 403 hlm.; ilus, 23 cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
9786021823453
Classification
297.636
Content Type
text
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
Cet. 1
Subject(s)
Islam
Nahdlatul Ulama
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
Safrizal Rambe
Other version/related

No other version available

File Attachment
No Data
Comments

You must be logged in to post a comment

Perpustakaan Amir Machmud
  • Information
  • Librarian
  • Admin
  • Penghitung Pengunjung

About Us

Perpustakaan Amir Machmud (NPP. 3171014A0000008) merupakan perpustakaan khusus. Perpustakaan Amir Machmud memiliki slogan “Suluh Bacaan Politik dan Pemerintahan”.

Filosofi slogan tersebut bermakna perpustakaan Amir Machmud dapat menjadi penerang bagi pemustaka dalam mencari sumber informasi sekaligus referensi terkait politik pemerintahan.

Jam Pelayanan

  • Senin-Jum'at 07.30-16.30
  • Sabtu-Minggu Libur

Ikuti di Instagram Tonton di YouTube

© 2026 — Perpustakaan Amir Machmud Kemendagri

Powered by Kementerian Dalam Negeri
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search
Where do you want to share?