Text
Etnisitas dan Pandangan Hidup Komunitas Suku Bangsa di Indonesia: Bunga Rampai kedua, Studi Etnisitas di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan
Setiap sukubangsa tentu memiliki karakternya masing-masing, dan setiap negara seperti halnya Indonesia bisa saja melingkupi banyak identitas kesukubangsaan, yang setiap hubungan di dalamnya bisa dipertemukan dengan semangat saling toleran. Identitas kesukubangsaan seperti ini dapat menjadi perekat emosional utama bagi negara, akan tetapi arti penting toleransi dalam model kemajemukan kesukubangsaan seperti ini kerap belum dianggap penting oleh masyarakat, termasuk kelompok-kelompok nasionalis.
Nilai toleransi sukubangsa sesungguhnya lahir dart perspektif universatis di mana satu identitas kesukubangsaan mempertahankan din dengan menghormati yang lain. Nilai universalitas itu adalah kebutuhan terhadap kehidupan bersama dengan orang lain, yang membuat mereka lalu menyusun pembagian kerja dan tata hubungan sosial yang diwarnai ketidaksamaan, termasuk juga di dalamnya sifat dominasi dan subordinasi. Justifikasi dan rasionalisasi terhadap relasi-relasi ini lahir dari ide-ide filosofis dan pandangan hidup (world views) yang mengalihkan perhatian mereka dari semata diri mereka sendiri kepada dunia lain, yakni dunia ideal berhadapan dengan dunia nyata, dunia esensi dengan dunia eksistensi, serta dunia subjek dengan dunia objek.
Nilai universalitas toleransi juga yang memungkinkan unsur-unsur di luar diri yang relatif baru dikenal dapat memasuki celah penting eksistensi, baik dalam arti tradisi maupun mitos, diri dan sekelompok individu dalam sebuah komunitas. Kelindanan proses dialektis seperti inilah yang memungkinkan terjadinya perubahan sosial yang sebenarnya - menjadi “alami" ketika berada pada konteks ruang dan waktu kehidupan manusia, walaupun “sejahat” sifat kemodernan sekalipun.
No other version available