Text
Majalah Tempo Maret 2019
Hiruk pikuk politik Indonesia tidak akan habis dibicarakan, seperti yang dilaporkan Tempo pada edisi 4-10 Maret 2019, dengan judul Berebut Suara Kaum Sarungan. Ternyata hanya karena pemilihan calon presiden, kiai Nahdlatul Ulama terbelah. Pasalnya, Jokowi bergerilya mendekati ustad kondang Abdul Somad Batubara dan Abdullah Gymnastiar. Sedangkan Prabowo membuat para kiyai kembali menggulirkan gerakan khitah 1926, yakni NU tidak terlibat lagi dalam politik praktis. Ketegangan pemilu muncul kembali dalam petarungan pemilu legislatif 2019. Tempo menguliknya pada edisi 11-17 Maret 2019 dengan tema Enam Menguak Senayan. Majalah Tempo kembali memilih kandidat wakil rakyat yang mempunyai rekam jejak jelas dalam memperjuangkan sejumlah isu penting bagi publik. Kami menyeleksi ribuan calon legislator dan mendapatkan enam kandidat dengan kisah yang inspiratif. Dengan judul Romy Akhirnya, Tempo merilis edisi ketiganya pada 18-24 Maret 2019 karena ketua umum Partai Persatuan Pembangunan diduga memperdagangkan jabatan di Kementerian Agama. KPK menciduk sang ketua umum, M. Romahurmuziy bersama empat orang lain di Bumi Surabaya City Resort Jawa Timur, pada 15 Maret lalu. Romy-- sapaan Romahurmuziy diduga menerima suap jual-beli jabatan dengan tarif Rp 1-4 Miliar per jabatan kepala kantor wilayah. Tak hanya suap jual beli jabatan kepala kantor wilayah, ternyata jual beli jabatan di Kementerian Agama juga terjadi pada Rektor Universitas Islam Negeri. Dalam tema Suap Tujuh Keliling pada edisi 25-31 Maret 2019, Tempo mempertanyakan, bisakah Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama, mengelak dari tuduhan? Pada edisi terakhir Maret 2019, 1-7 April 2019, Tempo membuat sebuah tulisan dengan judul Bara di Nduga. Karena jeritan korban nyata akibat perang TNI dan organisasi Papua Merdeka. Jumlah korban tewas dari kedua pihak terus bertambah dan masyarakat terpaksa mengungsi dan kian terjepit. Tempo menelusuri apa yang sebenarnya terjadi di Nduga
No other version available