Text
DPR dan Defisit Demokrasi
Isi buku ini sendiri merupakan memori kolektif institusional bangsa dan negeri ini yang harus disikapi secara positif, tidak perlu dengan sinis, demi perbaikan masa depan bangsa ke arah yang lebih baik. Penulisnya sendiri bukan orang yang punya kuasa dan hidup dengan bergelimang kekuasaan dan materi, melainkan hanya ‘the grey imminent,’ yang masih selalu berusaha mempertahankan idealisme, tradisi, dan kesenangan menulis sejak kecil.
Jika mau dinilai lebih serius, narasi dan penilaian dalam buku ini adalah cerminan untuk evaluasi perjalanan dan capaian demokrasi di Indonesia di era baru reformasi politik, masa transisi yang penuh kegamangan dan sekaligus kegalauan bagi anak bangsa yang menyadarinya. Melaporkan keadaan negeri dan penghuninya di luar gedung mengenai apa yang penulis lihat dan alami sehari-hari, tidak bermaksud untuk memburuk-burukkan keadaan, karena memang itu realitas yang terjadi. Kedua penulis sendiri selalu berusaha berpikir positif dalam menuangkannya sebagai warisan berharga di buku ini. Harapannya adalah, agar tidak sia-sia karena segera dilupakan dan dicampakkan. Buku ini menjadi modal bagi generasi baru milenial dan juga generasi panjang selanjutnya negeri ini untuk terus terpanggil untuk membongkar dan memperbaiki praktik politik yang buruk, agar defisit demokrasi tidak terus berlangsung, sehingga konsolidasi demokratis pun hanya tinggal impian.
No other version available