Computer File
Kejawen Modern : hakikat dalam penghayatan sumarah
Orang Jawa meyakini masjid bukan semata tempat untuk
beribadah kepada Tuhan. Lebih dari itu, masjid juga berfungsi sebagai
sarana menuju hubungan langsung dengan dunia gaib. Tujuannya
adalah untuk memperoleh perlindungan dari sesuatu yang jahat dan
mengerikan. Tak heran, banyak masjid yang berdampingan dengan
(kompleks) (pe) makam(an). Kenapa itu bisa terjadi, penyebabnya
adalah baik Islam maupun adat lokal terdefinisikan ulang secara
turun-temurun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Islam di Jawa
tidak mengenal apa yang disebut eksklusivitas. Ketergantungan antara
Islam dan dunia kejawen (kebatinan) juga tampak dalam wayang
kulit, sebagai kontinuitas Hindu ke Islam (kisah pertemuan Sunan
Kalijaga dan Judistira), atau perjuangan Pangeran Diponegoro pada
1825-1830 melawan penjajah Belanda (pertolongan Nyai Roro
Kidul). Artinya, interaksi antara Islam dan budaya lokal telah menciptakan sikap inklusivistik Islam yang tertanam di Jawa sejak dahulu
kala
Availability
#
Perpustakaan Amir Machmud (800)
840 PAU h
SJN0000787
Available
Detail Information
- Series Title
-
-
- Call Number
-
840 PAU h
- Publisher
-
Yogyakarta :
LKiS Yogyakarta.,
2008
- Collation
-
xIviii + 390 halaman; 14,5 x 21 cm
- Language
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
979-97853-8
- Classification
-
800
- Content Type
-
text
- Media Type
-
computer
- Carrier Type
-
slide
- Edition
-
Cet. 1
- Subject(s)
-
- Specific Detail Info
-
-
- Statement of Responsibility
-
-
Other version/related
No other version available
File Attachment
Orang Jawa meyakini masjid bukan semata tempat untuk
beribadah kepada Tuhan. Lebih dari itu, masjid juga berfungsi sebagai
sarana menuju hubungan langsung dengan dunia gaib. Tujuannya
adalah untuk memperoleh perlindungan dari sesuatu yang jahat dan
mengerikan. Tak heran, banyak masjid yang berdampingan dengan
(kompleks) (pe) makam(an). Kenapa itu bisa terjadi, penyebabnya
adalah baik Islam maupun adat lokal terdefinisikan ulang secara
turun-temurun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Islam di Jawa
tidak mengenal apa yang disebut eksklusivitas. Ketergantungan antara
Islam dan dunia kejawen (kebatinan) juga tampak dalam wayang
kulit, sebagai kontinuitas Hindu ke Islam (kisah pertemuan Sunan
Kalijaga dan Judistira), atau perjuangan Pangeran Diponegoro pada
1825-1830 melawan penjajah Belanda (pertolongan Nyai Roro
Kidul). Artinya, interaksi antara Islam dan budaya lokal telah menciptakan sikap inklusivistik Islam yang tertanam di Jawa sejak dahulu
kala.
You must be logged in to post a comment