Text
Jalan Tengah Renungan Politik dan Budaya di Era Ekstrem
Nalar ilmuwan, politisi dan sufi memang beda. Andai ketiganya bisa digabungkan, alangkah indahnya hidup ini. Andai politisi hanya mau menang dengan cara yang benar, sesuai kebenaran di lapangan, dan menerima hasilnya dengan hati yang lapang berdasarkan baik sangka kepada takdir/keputusan Tuhan, tentu jagat politik kita akan terasa damai dan indah. Sayang, semua ini. masih pengandaian belaka. Alangkah sulitnya menemukan politisi yang berjiwa ilmiah, apalagi yang berjiwa sufi!. Mengapa cinta bisa melahirkan fanatisme politik? Karena cintanya buta. Cinta itu positif, tetapi buta itu tidak. Buta artinya tidak bisa melihat. Cinta buta berarti karena sudah cinta, maka dia tidak bisa lagi melihat kekurangan yang dicinta. Jika diberitahu pun tentang kekurangan itu, dia tidak mau tahu. Tidak mau tahu lama-lama menjadi tidak tahu. Tidak tahu artinya bodoh. Fanatik bisa identik dengan bodoh.
No other version available