Text
Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga
Ada dua hal menarik dari buku Memoar Arief Hidayat dan Tradisi Ilmiah Keluarga. Pertama, kisah tentang siapa yang menduga jika Arief Hidayat yang menjadi hakim anggota Mahkamah Konstitusi pernah Wakil Ketua dan Ketua MK sejak 2013 silam itu, serta Doktor bidang Hukum Tata Negara dan Guru Besar Universitas Diponegoro, Semarang, dulunya seorang "preman kampus. la bahkan juga dikenal "anak bandel" sejak SMP hingga SMA.
Kedua, tentang tradisi ilmiah keluarga Arief Hidayat, yang mungkin jarang dialami keluarga di Indonesia, sehingga bagian kedua buku ini, berisi lima disertasi, dua pidato pengukuhan Guru Besar dan satu tesis. Arief Hidayat dan istrinya memang bukan cuma doktor, tetapi juga Guru Besar. Bahkan, kedua anak dan seorang menantunya juga doktor hukum, serta menantu lainnya master di bidang hukum.
Itulah Arief Hidayat. Hakim Konstitusi yang tak pernah terpikir jadi Hakim MK dan di awal jabatannya merasa gundah karena banyak dikibuli sejumlah saksi saat mengadili sengketa Pilkada. Padahal, selain ingin menjadi penjaga nurani negeri, putusannya juga selalu ingin disinari cahaya Pancasila.
Arief Hidayat adalah salah satu dari Hakim MK yang berani menolak permohonan Perkara Nomor 90 yang kontroversial. Arief bahkan untuk pertama dan terakhir kalinya menggebrak meja saat rapat permusyawaratan Hakim MK dan walkout dari ruang rapat. "Sebuah ruang yang seharusnya sunyi dari intervensi, namun justru, 'seperti diselimuti atmosfer yang aneh, berat, dan gelap'." Arief pun menyebutnya: "kosmologi negatif" istilah yang lebih dekat pada bahasa batin ketimbang bahasa hukum.
la pun tak menepis dan tak mengiyakan ketika dikonfirmasi bahwa ia telah diajak berdiskusi oleh seorang pejabat tinggi dengan topik pembahasan yang beberapa bulan kemudian itu sama dengan yang telah didaftarkan dan menjadi Putusan Nomor 90 di MK. Meski kalah suara, Arief Hidayat menunjukkan peranannya bukan hanya akademisi dan praktisi konstitusi atau hukum, tetapi juga penjaga nurani bernegara. Bersama dua hakim lainnya, ia tegas menolak penambahan frasa yang memungkinkan putra sulung Presiden Jokowi bisa menjadi calon wapres.
Saat sengketa hasil Pilpres 2024 pun, Arief Hidayat bersama dua hakim konstitusi lainnya mengajukan dissenting opinion, putusan berbeda dengan mayoritas hakim MK lainnya, la menyoroti kegaduhan politik yang dipicu oleh ketidaknetralan presiden dan aparaturnya. Untuk mencegah kegaduhan terulang di masa pilpres, diusulkan rambu-rambu yang jelas bagi presiden untuk memisahkan antara kepentingan pribadi dan publik.
Buku ini tentu tak hanya berisi pengalaman pribadi Arief, tetapi juga tradisi ilmiah keluarga yang membentuk diri dan keluarganya menjadi sosok berintegritas dan berdedikasi pada negara dan masyarakat. Dengan refleksi dan pengalaman mendalam, Arief Hidayat membagikan kisah dan pandangannya tentang hukum, keadilan, dan demokrasi di Indonesia.
No other version available