Text
Semar Bermalam di Kapal Induk
“… selama karier jurnalistik saya sepanjang 43 tahun 3 bulan, saya beruntung bisa menyaksikan lima GMT.
Mengingat GMT tidak cukup sering terjadi, dan jika pun terjadi, tempat kejadiannya berbeda-beda, umumnya amat jauh, mungkin saya bisa mengeklaim sebagai pemegang rekor di
Indonesia sebagai orang yang mengamati GMT terbanyak…”
Dalam bentangan lebih dari 30 kisah-kisah perjalanan Ninok Leksono, pembaca akan disuguhi berbagai keping memori tentang hal-hal yang menjadi minat, passion, bahkan obsesinya.
Karier dan fokus Ninok pun beragam, mulai dari isu-isu peperangan, teknologi, astronomi, militer, politik, sosial, hingga seni dan budaya. Semuanya menunjukkan suatu tengara yang nyaris tak bisa kita temui lagi dalam diri wartawan dan pengamat masa kini.
Ditulis langsung oleh mata pertama Ninok Leksono dengan penggambaran akurat yang tak meninggalkan kesan santai dalam tuturan serta dieditori oleh James Luhulima yang juga
berkiprah selama 33 tahun sebagai wartawan Harian Kompas, memoar ini menyimpan keping-keping pengetahuan yang hanya mampu digambarkan seorang yang berwawasan, dari
pengalaman pertama menaiki pesawat komersil terkemuka, mengamati gerhana matahari, bertemu dengan banyak tokoh dan pemimpin politik, sembari melanjutkan minat terhadap musik klasik, hingga main wayang di Istana Negara. Semar Bermalam di Kapal Induk adalah rekam sejarah yang tak ada duanya: daripada sekadar menekuri jejak langkah Ninok
Leksono dalam menjelajahi penugasan demi penugasan dan pengalaman demi pengalaman hidup, ia menyimpan suatu pelajaran yang penting dicatat oleh generasi muda, yakni betapa pekerjaan dan tugas dapat bersinar saat berkelindan dengan passion yang tak pernah
berhenti membara.
No other version available