JAKARTA — Bidang Perpustakaan Pusat Penerangan Sekretariat Jenderal Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menggelar kegiatan bedah buku "Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia" karya Rudolf Mrazek. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Tengah Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa (6/7/2026) ini dihadiri oleh sekiranya 100 peserta dari kalangan pustakawan, akademisi, mahasiswa, serta pegiat literasi. Acara ini dirancang sebagai ruang diskusi sejarah untuk membedah perjalanan hidup, pergulatan politik, hingga masa pengasingan Perdana Menteri pertama Republik Indonesia tersebut.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Kartini Nodim, yang menjelaskan bahwa edisi revisi buku setebal lebih dari 700 halaman ini sengaja diterbitkan kembali agar dapat dibaca oleh generasi Z serta disosialisasikan oleh perpustakaan dinas. Setelah sambutan, dilakukan penyerahan buku Sjahrir secara simbolis kepada perwakilan Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Moh. Ilham A. Hamudy. Dalam pengantarnya, Ilham menekankan pentingnya bagi pengelola bangsa dan birokrasi saat ini untuk merefleksikan kembali kebijakan negara agar tetap relevan dengan gagasan sosialisme demokrasi serta sikap konsisten menentang militerisme dan feodalisme yang pernah di usung Sjahrir.
Putri kandung Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir, yang hadir memberikan pengantar diskusi utama, mengungkapkan rasa haru karena gagasan sang ayah mengenai moralitas dan etika bernegara dapat kembali didiskusikan. Dalam kesempatan tersebut, Upik turut membacakan penggalan pidato radio Sjahrir yang memuat prinsip humanisme mendalam. "Kita percaya pada tempo yang akan datang untuk kemanusiaan di mana tiada kekuasaan lagi yang menyempitkan kehidupan manusia." ujar Upik saat membacakan kutipan dari tulisan sejarah sang ayah di hadapan para peserta.
Diskusi ilmiah yang dipandu oleh moderator Dewi Ria Utari ini menghadirkan narasumber utama, yaitu Hilmar Farid. Dalam pemaparannya, Hilmar Farid menyebut buku ini bukan sekadar biografi biasa, melainkan sebuah diagnosis tajam terhadap kondisi masyarakat melalui rekam jejak Sjahrir, termasuk keberaniannya merilis pamflet "Perjuangan Kita" pada November 1945 yang mengkritik arah revolusi dan juga mengajak peserta membayangkan beratnya beban pemikiran generasi Sjahrir yang diasingkan ke Boven Digoel pada usia 25 tahun demi merintis jalan kemerdekaan tanpa adanya panduan terdahulu.
Sesi akhir acara diisi dengan diskusi interaktif dan tanya jawab bersama para peserta, salah satunya mengenai relevansi nilai sejarah dalam kurikulum pendidikan birokrasi saat ini. Menanggapi hal tersebut, Andreas Haryono mengingatkan pentingnya mengadopsi cara berpikir Sjahrir yang universal untuk mengikis budaya feodal yang terkadang masih tersisa di dalam instansi pemerintahan. "Ada satu nilai yang dipegang Syahrir, itu anti-feodal, yang agaknya di dalam birokrasi kita masih tertinggal. Kita perlu melakukan desakralisasi jabatan publik itu sendiri. Seringkali birokrasi ini dengan logika dia sendiri bekerja, pada akhirnya bukan melayani, tapi ingin dilayani," tegas Hilmar Farid sebelum diskusi resmi ditutup.