REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan dunia literasi selalu menarik untuk dikupas. Beragam isu yang menyertainya pun tak luput menjadi bahasan hangat di masyarakat dan sering kali dijadikan tolok ukur perkembangan bangsa.

 

“Perkembangan dunia literasi di tengah digitalisasi menjadi ranah yang menarik untuk dibahas,” ujar Erick saat diskusi Sarinah Jakarta Content Week 2021 (Sarinah Jaktent) bertajuk “On Literacy: Turning the Wheel of Wealth” di Gedung Sarinah, Jakarta, Rabu (8/12).

Erick selaku Menteri BUMN yang membawahi 171 badan usaha negara adalah salah satu pemangku kepentingan yang punya daya besar untuk menggerakkan dunia literasi di Indonesia. Erick mencontohkan salah satu BUMN pernah mampu membuat program literasi yang masif dan berdampak luar biasa dalam membuka akses literasi bagi masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.

Erick menyebut, pengembangan kreativitas di era digitalisasi yang sangat penting di samping pembangunan ekosistem dan infrastruktur. Menurutnya, multiplatform storytelling harus dikembangkan.

“Karena itulah kami akan membuat multiplatform storytelling

dengan mendorong BUMN sebagai lokomotif besar,” ucapnya.

Erick mengaku telah meminta para pimpinan BUMN untuk tidak hanya melihat bisnisnya saja. Mereka harus mencermati juga ekosistem yang lebih besar dan berkaitan, terutama menyediakan infrastruktur untuk diisi generasi muda sebagai kreator, serta bisa melibatkan komunitas.

Penulis muda inspiratif Nadhifa Allya Tsana yang memiliki nama pena Rintik Sedu mengajak masyarakat mencintai buku dan pengetahuan. Melalui berbagai platform digital yang diciptakannya, mulai dari blog, Twitter, Wattpad, bahkan podcast, ia memberi pengaruh besar bagi generasi muda.

Nadhifa menyebut, literasi saat ini relatif lebih dekat dengan kemajuan teknologi. Hal ini berbeda dengan era sebelumnya yang mana literasi masih terpaku pada segmen fisik.

“Literasi sekarang lebih banyak warnanya, bentuk adaptasinya, bentuk formatnya, kita tidak harus ke toko buku, perpustakaan, yang mana anak muda membaca melalui handphone. Literasi lebih berkembang di mana kita bisa baca di mana pun dan kapan pun,” ucap Nadhifa.

Ketua Harian Jakarta Kota Buku Laura Bangun Prinsloo berharap kehadiran Erick Thohir dan Rintik Sedu bisa menjawab tantangan dalam dunia literasi dan pemanfaatan yang tepat terhadap dunia digital. Laura menilai anak muda Indonesia harus benar-benar bangkit dan melakukan perubahan dengan aktivasi dunia digital yang mempermudah

 

“Dukungan dari pemangku kepentingan dan pemerintah pun harus diupayakan dengan semaksimal mungkin untuk tercapainya pemerataan dan pemberdayaan literasi yang lebih luas lagi,” ujar Laura.

Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Fetty Kwartati mengatakan diskusi ini menjadi bagian dari dukungan Sarinah sebagai community mall. Sarinah ingin menjadi ruang kreasi, pertemuan, dan jejaring para insan kreatif, terutama di bidang literasi.

“Kami berharap, teman-teman di industri kreatif dan konten kreator seperti Rintik Sedu, bisa memanfaatkan Sarinah untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah, dalam hal ini BUMN,” kata Fetty.

Sarinah Jakarta Content Week 2021 yang berlangsung pada 1 Desember hingga 12 Desember 2021 diinisiasi oleh Yayasan 17000 Pulau Imaji (YTPI) dan Frankfurt Book Fair serta mendapat dukungan dana oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Sarinah

(Persero,) dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta. Ada sesi khusus yang membahas mengenai isu ini dan mempertemukan penulis muda dari generasi digital native dengan Menteri BUMN, dua generasi dan sudut pandang.

Acara yang merupakan hasil kolaborasi dengan JCCN (Jakarta Creative City Forum) dan ICCN (Indonesia Creative City Network)  ini membahas beragam tantangan dan kesempatan yang tersaji di dunia literasi. Elemen produksi, medium, distribusi, sampai minat baca masyarakat turut dibahas.

Di saat yang bersamaan, Jakarta sebagai Ibu Kota negara Indonesia telah dinobatkan sebagai salah satu UNESCO City of Literature. Jakarta juga telah masuk ke dalam jaringan kota kreatif dunia. Dalam diskusi ini, dibahas tentang banyaknya elemen yang membangun dunia literasi Indonesia dan sampai saat ini beberapa di antaranya masih belum bekerja secara maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan semacam role model atau prototype yang mampu menginspirasi, menggerakkan, atau bahkan mengorganisir para stakeholder literasi dan masyarakat luas.


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.