Dinamika Demokrasi, Politik, dan Pemerintahan Daerah : Sentilan Cerdas, dari Hulu sampai ke Hilir

Collection Location Perpustakaan Amir Machmud (Setjen Kemendagri)
Edition
Call Number 352 MUH d
ISBN/ISSN 979-062-321-6
Author(s) Muhadam Labolo
Subject(s) Pemerintahan
Demokrasi
Classification 352
Series Title
GMD Text
Language Indonesia
Publisher permata puri media
Publishing Year 2011
Publishing Place Jakarta
Collation vii, 324 hlm, 28 cm
Abstract/Notes Karya Muhadam Labolo ini berbicara tentang Demokrasi Politik dan Pemerintahan Daerah, bukan dari sudut pandang teori yang rumit dan berbelit-belit, melainkan dari potret yang autentik di lapangan. Karena itu, bukan hanya isi buku ini yang diangkat dari lapangan, melainkan cara penyajiannya pun tetap bergaya lapangan. Enak, ringan, dan tidak bertele-tele. Sentilan-sentilannya ringan, tetapi tetap pas; tidak membuat kuping panas, melainkan menggelitik gelak di hati, da bisa meringankan langkah untuk, tanpa rasa risih, mau mengoreksi diri. Keistimewaan buku ini yaitu bisa menunjukkan kelemahan-kelemahan dari ide-ide dan praktik-praktik politik demokrasi dan pemerintahan daerah tanpa menohok manusiannya. Dengan kata lain, penulis dengan cerdas menghindari kesesatan-kesesatan logika yang cenderung terjadi dalam dunia kritik dan perdebatan dewasa ini yang terlalu bersifat ad hominem atau ad personam; yang disoroti mestinya masalahnya (rem), bukan orangnya (personam).

Ketika dia bicara pilkada yang tak bisa berjalan tanpa banyak menghabiskan biaya, dia membahasakannya dengan ungkapan 'logika tanpa logistik'. Ketika menyindir mental persaingan tidak sehat birokrat, dia mendesetkan DAK yang tadinya berarti formal 'Daftar Urutan Kepangkatan' menjadi bernuansa aktual 'Daftar Urutan Kedekatan'. Ketika menyoroti persaingan tidak sehat dari para birokrat kita, dia mengutip konsep para pakar otentik dari dunia lapangan, yakni dunianya sopir angkot, bis kota, dan tukang bajaj, 'bersaing di lapangan, berkumpul di pangkalan', karena menurut penulis, birokrasi kita justru memperlihatkan gejala sebaliknya, di lapangan mereka tak terlihat berkompetisi, di kantor (di pangkalan) mereka justru bersaing untuk kemudian saling menjatuhkan.
Specific Detail Info
Image
  Back To Previous